“Someday you’ll notice me || Not arrogant, just better.” Dari dulu di bio media sosialnya selalu seperti itu, termasuk saat menipu saya. Jadi tetap hati-hati ya, karena kasus yang saya alami ini belum lama kejadiannya.
Sejak awal kami menulis blog ini, awal 2021, setiap beberapa bulan sekali selalu ada yang menghubungi kami entah lewat email, WhatsApp, atau komentar di blog ini. Pesannya sama: Dennis masih aktif menipu dan selalu ada korban baru dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah per korban.
Kabar terakhir yang kami tahu adalah sampai beberapa bulan yang lalu, Dennis bekerja di sebuah mall di Bandung. Tentu saja, dia menipu orang-orang di mall itu dengan kerugian ratusan juta rupiah. Sampai saat ini tidak ada ganti rugi atau pengembalian dana dari Dennis kepada korban di mall tersebut.
Foto di Bandung ketika Dennis Adriansyah Ramadhan berusaha menipu. Ketika foto ini diambil, korban belum tahu kalau Dennis adalah penipu. Kami mendapatkan foto (dengan caption) ini dari korban yang menghubungi kami.Foto Dennis ketika ia berhasil ditangkap seorang korbannya di Bandung. Kami mendapatkan foto ini dari korban yang menghubungi kami.
Kelihatannya Dennis tidak bisa menahan diri untuk tidak menipu di setiap tempat dia bekerja. Kami himbau siapapun yang berhubungan dengan Dennis agar hati-hati dengan orang ini.
Usaha usaha untuk menutup blog ini
Sudah banyak usaha dan tekanan untuk menutup blog ini, bahkan dari awal blog ini diterbitkan. Misalnya, dengan melaporkan blog ini ke penyedia layanan website atau dengan alasan UU ITE. Sekali lagi kami tekankan bahwa blog ini dibuat bukan dengan tujuan mencemarkan nama Dennis, melainkan untuk memberikan informasi atas penipuan-penipuan yang dilakukan oleh Dennis.
Kami punya asalan sendiri untuk mempertahankan blog ini. Orang-orang harus tahu kalau Dennis adalah penipu ulung. Ia banyak menipu orang karena informasi tentang Dennis tidak tersebar, cenderung terpusat di lingkaran-lingkaran pertemanan tertentu.
Semoga kita semua dilindungi dari kejahatan dan orang-orang seperti Dennis.
Buat Dennis, daripada lo sibuk mikir gimana blog ini tutup, mending lo tobat. Coba ke psikolog atau rukyah, mungkin lo bisa insyaf. Semoga lo menderita selalu, amin.
Tulisan ini adalah cerita pribadi seorang korban Dennis yang penipuannya terjadi pada tahun 2016
September 2016
Awal mula saya bertemu dennis di daerah senayan secara kebetulan menghadiri acara yang sama. Sejak itu kami keep contact hingga dia kemudian meminjam uang untuk kepentingan pribadi dan mengajak saya bertemu di kantornya saat itu (Alamanda Tower Simatupang). Setelah lunas ia menawarkan saya untuk bermitra bisnis dengan kantornya (Pt. S****M) disertai surat perjanjian, dan saya mengirimkan uang sekian juta sebagai modal awal beserta pajak, yang kemudian disetor lewat 2 rekening bank berbeda.
Oktober 2016
Pengembalian uang macet setelah berjalan lancar selama beberapa hari, Dennis kerap menunda atau malah meminta kembali uang yang telah ditransfer dengan alasan menghindari audit internal. Tak lama saya dihubungi Mr.B yang mengaku manajer proyek terpisah menawarkan diri untuk “menyelamatkan” investasi saya ke proyek yang ia pegang atas permintaan Dennis. Saya diminta mengeluarkan modal lebih banyak ditambah “jatah”pegawai pajak. Dennis memberitahu bahwa saya tidak dapat mengundurkan diri atau kami berdua terancam diaudit (seluruh aktivitas masuk “grey area” berdasarkan penjelasan Dennis).
November 2016
Pengunduran pemindahan modal ditangani seorang pegawai legal berinisial I yang meminta saya menyerahkan BPKB motor (kini telah kembali ditangan saya) untuk pengurusan kendaraan hibah dari kantor. Saya juga menyerahkan 3 kartu ATM dengan alasan untuk verifikasi oleh Mr.B, saya titipkan ke Dennis. Saya juga memberi nomor pin atas permintaan Mr.B dan hanya beliau yang saya beritahu (ketiga rekening tersebut telah kembali di tangan saya saat ini, kecuali satu bank telah berhenti beroperasi di Indo).
Desember 2016
Dennis beserta Mr.B dan Pak I memaksa saya mengikuti pertemuan shareholder di Jepang dan harus menyerahkan sejumlah uang. Saya diancam diblacklist dari PT bila tidak mengikuti. Kondisi semakin runyam mendengar kabar dari Mr.B bahwa SKK Migas menskors program investasi saya dan saya dipersulit menarik modal yang telah saya tanam, estimasi sebesar 160 juta rupiah. Disaat yang sama Dennis memblokir saya di WA dan Line, dan Mr.B juga tidak lagi memberi kabar.
Januari 2017
Saya beserta seorang anggota keluarga mengkonfrontir Dennis di Alamanda Tower, dimana ia mengakui bahwa semua program investasi yang dijalankan adalah bodong, dan berjanji secara tertulis akan mengembalikan uang saya dalam 2 bulan (tidak saya terima sampai hari ini, tahun 2021) dan akhirnya saya melaporkan dennis ke polres jaksel setelah mengetahui ada korban lain (Mas R).
Saya paham apa yang saya dan korban lain alami datang salah satunya dari keteledoran kami, dan kami harap masyrakat dapat belajar dari kasus kami dan berhati hati dengan Dennis Adriansyah Ramadhan.
“Someday you’ll notice me || Not arrogant, just better.” Sejak dulu Dennis menuliskan bio seperti itu di media sosialnya, termasuk saat menipu saya. Mohon berhati-hati karena Dennis memang mencari korbannya melalui message FB dan dm Instagram, setelah itu barulah kami diajak bertemu langsung untuk membicarakan detil investasi dan kontrak. Perlu saya tekankan bahwa dalam kasus yang kami alami, uang yang dibawa lari Dennis tidak dapat dikatakan sebagai kerugian dalam berinvestasi, melainkan penipuan (penjelasan selengkapnya telah saya tulis di post sebelumnya).
Saya ingin sedikit cerita mengenai penipuan yang belakangan saya alami. Penipuan ini dilakukan oleh teman lama saya (Dennis Adriansyah Ramadhan, 28 Tahun) dengan modus investasi atas nama suatu perusahaan. Dennis adalah alumni dari SMAN 28 Jakarta dan Teknik Mesin 2009. Siapa yang sangka, teman lama yang merupakan alumni dari sekolah juga perguruan tinggi ternama bisa melakukan penipuan? Tapi itulah yang telah dilakukan Dennis. Dennis melakukan penipuan kepada sejumlah teman lamanya dengan menawarkan investasi atas nama perusahaan tertentu. Kerugian yang dialami korban-korbannya mencapai ratusan juta rupiah.
Kejadian ini saya alami sekitar bulan September – Oktober 2020. Dennis menawarkan investasi pengadaan barang atas nama PT. Bukaka Inti Aircon. Ia mengaku sebagai project manager di PT Bukaka Inti Aircon dan mengajak saya untuk berinvestasi di perusahaannya. Untuk meyakinkan saya, Dennis sengaja mengajak bertemu langsung untuk menjelaskan investasi yang dimaksud (berupa pengadaan barang). Dennis menunjukkan KTP, SIM, dan kartu nama atas perusahaan yang dimaksud. Dennis juga mempersilahkan saya untuk mem-foto semua identitasnya, bahkan mengajak untuk berfoto bersama dengan kartu namanya.
Chat awal Dennis melalui Facebook
Dennis Adriansyah Ramadhan menggunakan kartu nama perusahaan untuk meyakinkan korban
Sementara, saat Dennis menghilang selama kurang lebih satu minggu setelah dikonfrontasi mengenai penipuan ini, saya mencoba menghubungi PT. Bukaka Inti Aircon. Informasi yang saya dapatkan dari perusahaan tersebut adalah Dennis sudah tidak lagi bekerja disana, terhitung Agustus 2020. Dan ternyata, PT Bukaka juga menerima laporan serupa dari korban lainnya. Sebagai tindak lanjut dari laporan tersebut, mereka pun mengeluarkan surat terbuka sebagai klarifikasi bahwa PT Bukaka Inti Aircon tidak pernah menawarkan investasi pengadaan barang ataupun investasi kepada publik. Jelas bahwa apa yang dilakukan Dennis adalah penipuan.
Mungkin diantara teman-teman sudah mengetahui bahwa ada korban yang kehilangan uang hingga 1M. Hal tersebut bukan hanya cerita dari mulut kemulut, tapi memang seperti itu kenyataannya. Dan saat ini, jika ditotal dengan tiga korban lain (yang berhasil saya hubungi), jumlah uang kami yang dibawa lari oleh Dennis mencapai 968 Juta Rupiah. Haruskah saya menyimpan informasi ini untuk diri saya pribadi, sementara Dennis di luar sana bisa dengan tenang menjalani hidup, sebisa mungkin menghilang dari para korbannya, dan yang paling tidak bisa diterima hingga saat ini Dennis masih terus berusaha menawarkan investasi yang ternyata hanyalah modus penipuan. Saya ingin agar teman-teman aware dan berhati-hati dengan nama Dennis Ardiansyah Ramadhan. Saya berharap dengan blog ini, teman-teman dapat membantu mempersempit ruang gerak Dennis untuk menipu lagi.
Seperti kita tahu, untuk mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan atau menentukan partner berbisnis, kita harus melakukan background check, dan mencari tahu reputasi kandidat kita bukan? Sayang sekali, hal itu memang belum saya lakukan ketika saya berhadapan dengan Dennis di masa lalu. Namun, dengan adanya informasi ini, paling tidak hal buruk itu hanya terjadi sampai di keluarga saya, dan tidak berlanjut merugikan pihak lain.
Dalam kasus penipuan ada banyak respon saat korban bercerita. Dari banyaknya respon kepedulian yang muncul, masih ada diantaranya yang melihat kasus ini semata sebagai kesalahan korban karena mudah percaya dan lain sebagainya. Melalui blog ini, saya ingin mengajak untuk kita bisa melihat hal yang lebih besar dari pemikiran tersebut. Ada hal yang lebih penting dan perlu disoroti, yaitu pelaku penipuannya.
Saya merasa tergerak untuk membuat blog ini ketika mengetahui penipuan yang dilakukan Dennis sudah dialami banyak teman-teman alumni dari tahun 2016 dan jumlah kerugian yang dialami korban mencapai ratusan juta hingga 1M. Tidak banyak yang bisa saya lakukan untuk menghentikan Dennis. Namun, dengan adanya blog ini saya benar-benar berharap Dennis tidak bisa menargetkan teman-temannya lagi sebagai korban selanjutnya. Teman-teman alumni, juga orang lain di luar sana bukan ladang bagi Dennis untuk mendapatkan uang dengan cara menipu.
Mengapa jumlah kerugian korban bisa mencapai ratusan juta rupiah?
Uang tersebut bukanlah jumlah uang yang dikeluarkan korban sebagai modal untuk investasi, melainkan total dari uang yang diminta oleh Dennis kepada para korbannya. Dennis menciptakan berbagai cerita yang mengondisikan uang modal korban tidak bisa dikembalikan. Dennis terus menerus mengatakan butuh ditransfer sejumlah uang dengan menjanjikan uang modal korban bisa dikembalikan.
Dalam melakukan hal ini, Dennis banyak melibatkan peran-peran lain seperti admin (Anna Karina), petugas polisi (Tri Zaidi), petugas Ditjen Pajak (Frans Sitorus), auditor EY (Sarah Sapalli), dsb. Sebagai admin, Anna Karina berkomunikasi dengan para korban melalui whatsapp. Sementara peran lainnya, akan menghubungi melalui email. Peran-peran tersebut membantu Dennis untuk meyakinkan korban agar bersedia mentransfer sejumlah uang kepada Dennis. Cara yang dilakukan adalah dengan menakut-nakuti atau membujuk korban untuk mengikuti “drama” settingan Dennis, sehingga korban setuju untuk mentransfer sejumlah uang. Dennis bersama peran-peran tersebut membuat cerita untuk menekan para korbannya. Mereka menyatakan bahwa modal ataupun profit dari investasi tidak akan bisa dicairkan jika tidak mentransfer sejumlah uang ke rekening Dennis.
Kemungkinan, petugas polisi, petugas Ditjen Pajak, dan auditor EY yang menghubungi saya ini adalah fiktif. Semua nama tersebut kemungkinan bukan nama asli karena tidak bisa ditemukan di manapun di internet (google, Linkedin, Facebook, Twitter, dan Instagram). Selain karena data diri yang sama sekali tidak bisa ditemukan di internet, mereka selalu mengirimkan email melalui email pribadi (gmail), bukan melalui email institusi. Di kemudian hari saya juga mencoba mengirim email kepada mereka, namun ternyata email mereka sudah tidak aktif lagi.
Dennis sangat manipulatif. Ia menggunakan berbagai cara untuk mendapat kepercayaan dari para korbannya. Selain membuat drama dan peran-peran settingan, Dennis juga berbohong dengan mengatakan bahwa kenalan kami (teman satu angkatan) juga berinvestasi dengan jumlah besar melalui Dennis. Padahal, setelah saya tanyakan hal ini langsung pada orang ybs (BY), dia tidak tahu menahu soal investasi ini dan sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Dennis. Saat kejadian itu, Dennis pun masih berupaya membohongi saya dengan mengirimkan screenshotchat palsu antara dirinya dan BY.
Cara lain yang digunakan Dennis untuk mendapatkan uang korban adalah dengan mengatasnamakan pertemanan untuk meminta tolong kepada korbannya. Hal ini juga saya alami saat Dennis meminta saya untuk mentransfer sejumlah uang dengan alasan jika dia tidak menyelesaikan project ini, dia akan dikenakan pinalti sebesar 70 juta rupiah. Karena itu sebagai teman, dia meminta bantuan agar dirinya tidak terkena pinalti.
Dennis terus menekankan bahwa dirinya bisa dipercaya dan meminta saya untuk mempercayainya mengurus segala ‘’masalah’’ yang ada dalam investasi ini. Berulang kali dia mengatakan bahwa sebagai teman ia hanya ingin memberi yang terbaik untuk saya. Dennis berhasil membujuk saya untuk terus mengirimkan uang dengan tujuan mengamankan modal dan asset saya.
Di lain waktu, Dennis dan peran-peran settingan-nya menjalankan drama bahwa seluruh investor melakukan cancel investasi. Dengan melakukan cancel ini, dikatakan bahwa seluruh modal dan uang yang telah ditransfer untuk ‘’membantu’’ Dennis akan dikembalikan kepada korban. Namun, agar bisa di cancel, korban harus membayar pinalti yang dikatakan beragam besarnya (saya disyaratkan membayar pinalti 60 juta rupiah). Padahal, dalam perjanjian investasi yang dibuat sebelumnya, tidak disebutkan mengenai cancel investasi akan mengakibatkan pinalti sejumlah 60 juta rupiah. Dari sini saya menyadari bahwa Dennis telah melakukan pemerasan kepada saya, juga para korban lainnya.
Setelah diketahui menipu, Dennis menghilang dan mem-block saya, juga para korban lainnya di berbagai social media & whatsapp. Hingga saat ini, Dennis tidak bisa kami hubungi.
Usaha apa saja yang sudah dilakukan oleh para korbannya?
Saya mencoba untuk mencari tahu keberadaan Dennis dengan menghubungi beberapa teman. Dari situ, saya terhubung dengan 3 korban lainnya. Saya pikir, saya adalah satu-satunya korban dari penipuan Dennis, ternyata tidak. Ada banyak korban lainnya. Dari situ pun saya tahu bahwa ini bukan tahun pertama Dennis melakukan penipuan.
Mungkin dari teman-teman yang membaca blog ini bertanya-tanya, mengapa kasus seperti ini tidak dilaporkan ke polisi? Jawabannya, sudah dilaporkan oleh beberapa korban lainnya. Sayangnya, proses hukum masih terhambat. Selain itu, tidak semua korban bisa melaporkan kasus ini kepada pihak berwajib, karena banyak diantara mereka yang masih terus berusaha untuk mendapatkan kembali uang mereka (karena itu, mereka tidak melaporkan Dennis secara pidana). Dari yang saya ketahui, ada diantara mereka yang dijanjikan dengan jumlah cicilan tertentu, ada juga yang sudah dikembalikan penuh setelah terus dikejar untuk mengembalikan uang mereka.
Ini adalah surat bukti lapor dan pengaduan kepada pihak berwajib yang pernah dilakukan oleh 2 korban lainnya.
Penipuan atau Hutang Piutang?
Uang investasi yang tidak pernah dikembalikan bisa saja disebut sebagai hutang. Tapi bagaimana jika orang tersebut berbohong dengan mengatasnamakan suatu perusahaan (dimana perusahaan tsb sama sekali tidak pernah menawarkan investasi apapun kepada publik). Apakah hal ini hanya akan dilihat sebagai kasus hutang-piutang? Dennis tahu persis ada teman-teman yang meminta bantuan ke orang tua mereka, keluarga, bahkan menggunakan uang alm. orang tua mereka untuk mentransfer uang ke rekening Dennis. Tujuannya hanya untuk memperoleh kembali uang yang sudah mereka transfer, sesuai dengan yang dijanjikan Dennis. Saat salah satu korban mengatakan sudah tidak punya uang untuk mentransfer, Dennis justru mengarahkan korban untuk mengajukan pinjaman. Saya benar-benar tidak habis pikir apa yang sedang dijalankan Dennis dalam hidupnya? Haruskah menjalani hidup seburuk ini di usia yang masih sangat muda? 28 tahun menipu hingga milyaran.
Mungkin diantara teman-teman yang membaca blog ini sudah pernah mengetahui berita ini sebelumnya dan berharap Dennis sudah berhenti melakukan hal ini atau tidak ada teman lainnya yang tertipu lagi oleh Dennis. Sayangnya, tidak semua mengetahui hal ini. Saya menerima banyak dm dari teman-teman alumni yang ternyata juga pernah ditawarkan investasi oleh Dennis. Saya pribadi turut merasa senang jika mereka tidak menerima tawaran Dennis, Alhamdulillah. Namun dari sini bisa disimpulkan bahwa Dennis memang masih terus berusaha mendekati teman-teman lamanya untuk ditargetkan sebagai “investor”.
Kami, para korban masih mengharapkan itikad baik dari Dennis untuk menyelesaikan masalah ini, tapi di luar itu, jujur kami muak dan resah karena tahu sampai saat ini Dennis masih terus menipu. Terkait dengan Dennis yang menghilang dan tidak ada itikad untuk menyelesaikan masalah, kami pun mencoba untuk menghubungi pihak keluarga. Beberapa korban lain pernah bertemu langsung dengan orang tua Dennis. Sementara, saya pribadi mencoba menghubungi orang tua Dennis melalui whatsapp.
Semoga Allah memberikan petunjuk dan hidayah-Nya kepada Dennis agar segera bertaubat.
Terima kasih sudah membaca blog ini. Mohon bantu sebarkan. Semoga Allah selalu memberikan kemudahan bagi kita semua, Amin Ya Rabbal alamin.
katanya, ngga sopan 🙂 (???)
Selain blog ini, korban lain yang mengalami modus serupa dengan saya juga berusaha menyebarkan informasi mengenai penipuan ini melalui facebook